Pondasi

Lama ya setelah berbagai roda kehidupan telah berputar dengan cepatnya, akhirnya aku kembali padamu, teman ceritaku. Tulisan ini special karena dibuat di atas lokomotif tujuan Yogyakarta tercinta. Mungkin tulisan ini sedikit mengendurkan banyak pikiran-pikiran yang terjerat dan melepaskan perasaan-perasaan yang mengotori hati.

Teruntuk diriku sendiri, tulisan ini sebagai pengingat.

Seperti rumah, bagiku kehidupan adalah tempat kita bernaung ketika di dunia. Kehidupan dibangun sejak kita dapat memaknai bahwa hidup ini adalah rumah kita. Rumah yang dapat kapan saja roboh, tenggelam, tertimbun, yang dapat setiap waktu pergi dari kita, jika Allah menghendaki. Setiap rumah dibangun dari pondasi yang kuat, lantas bagaimana rumah kehidupan kita?aku?
Sudahkah dibangun oleh pondasi yang kuat dan kokoh?

Di dalam loko no.1 lagi-lagi aku mengokohkan pondasi kehidupan, karena kapan saja ia dapat runtuh, jika kita tidak memperhatikannya dengan jeli. Menimbang-nimbang, berpikir jauh ke belakang, mengingat segala yang pernah di pelajari dari berbagai guru, baik guru dalam arti sebenarny maupun guru kehidupan. Memang benar bahwa pondasi yang paling dasar adalah tentang keyakinan. Jika keyakinan itu menjadi penopang, rumah yang kita bangun akan lebih kuat dibanding jika penopang itu hanya sekedar tentang dunia saja  mungkin saja pondasi itu tidak cukup kokoh.
Sedang nyawa kita, tidak hanya cukup berhenti di dunia saja.

Tiba-tiba lamunan itu buyar ketika mendengar suara lucu yang menyapa"hallo tante". Lamunan tentang pondasi itu terjeda cukup lama, karena obrolan seorang aku dengan aku beberapa puluh tahun yang lalu, yang belum menemukan makna kehidupan.
Anak kecil yang manis itu membuatku melihat kepada kedua orang tuanya, yang sama ramahnya, sama baiknya. Pantas saja anak itu sungguh manis. Terima kasih, nak sudah menyapa  dan mengalihkan lamunanku. 

Setelah dia tertidur, aku pun melanjutkan lamunanku. Aku kembali melihat ayah dan mamah anak manis itu kemudian aku segera melihat jendela kereta sebelah kananku, dan aku masih melihat bayanganku seorang diri. Aku melamun kembali, tentang bagaimana beberapa waktu ke depan, bagaimana nasib pondasi kehidupanku yang belum kokoh ini, ketika harus disandingkan dengan pondasi lainnya, karena hidup tidak untuk selalu sendiri bukan (?)

Apa yang membuat kehidupan dari dua orang ini dapat kokoh selain pondasi yang sama kuatnya?adakah hal lain?
Setelah beberapa stasiun terlalui, aku pun tak menemukan jawaban lainnya, selain hanya pondasi itu sendiri.
Lantas, kenapa seorang aku masih saja menggoyahkan pondasiku sendiri yang pelan-pelan dibangun agar semakin kuat?


Sekuat dan sekokoh apa pondasi kehidupan kita, ya kita yang tahu. Apa kriteria pondasi yang akan bersanding dengan kita juga kita yang tahu, lantas kenapa seorang aku masih saja sering goyah dan tidak menjaga kekuatan pondasiku sendiri? 
Jika pondasi diri sendiri saja mudah runtuh ketika seorang diri, bagaimana jika bangunan itu disandingkan dengan yang lain?






Comments