Sugeng rawuh dhumateng para pamaos :)
(Selamat datang kepada para pembaca)
Seiring perkembangan zaman yang menuntut kita untuk dapat menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional, seiring itu pula banyak masyarakat yang melupakan bahasa daerahnya. Aku dapat mengatakan itu karena telah berada di antara fonemena tersebut, sebagai orang Jawa asli dan pernah merasakan mengajar di jenjang SMP, SMA, SMK serta menjadi guru privat bahasa Jawa untuk anak SD-SMP-SMA. Saat itu aku sangat merasakan bagaimana orang Jawa di zaman sekarang sudah melupakan bahasanya, dengan kata lain "Wong Jawa ilang Jawane". Tidak dapat menyalahkan satu pihak saja ketika ini semua sudah terjadi, namun alangkah baiknya masing-masing pribadi mengoreksi diri untuk tetap menjaga kekayaan bahasa daerah supaya tetap lestari. Bagaimana si caranya? "Duhh berat amat mikir kekayaan bahasa daerah, mikir cari dhuwit aja pusing, mikir belum dapat jodoh, mikir kuliah belum selesai-selesai, kok masih suruh mikir bahasa daerah? Aku aja nggak pernah pakai bahasa itu kok, dah gak zaman, malu ah...", sepertinya ungkapan-ungkapan demikian sudah mewakili perasaan milenial zaman now.
Jangan khawatir, caranya tidak bikin rumit seperti hubungan percintaan kalian itu, haha..Ayolah kita mulai dahulu dengan mengoreksi tulisan bahasa daerah kita yaitu Bahasa Jawa. Dengan demikian, kita akan mengurangi kesalahan-kesalahan penulisan dan ketika tulisan tersebut dibaca oleh orang lain kita tidak sedang membodohi mereka, namun hal tersebut justru menjadi cara jitu untuk melestarikan bahasa ini supaya tetap berada dalam jiwa orang Jawa tanpa menyalahi pedoman yang sudah ada. Biar apa yang kita share adalah yang sebenar-benarnya benar, bukan hoax.
Jadi, kali ini kita akan belajar mengenai widyaswara, yang dalam bahasa Indonesianya berarti fonologi. Widyaswara berasal dari dua kata atau rong tembung, yaitu kata widya dan swara. Widya berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti 'ilmu', sedangkan swara berarti 'bunyi'. Dengan demikian, widyaswara adalah ilmu yang mempelajari mengenai bunyi. Bunyi yang dipelajari di sini bukan sembarang bunyi, namun bunyi-bunyi yang dapat membedakan wujud dan maknanya (distingtif). Distingtif menurut KBBI adalah istilah dalam linguistik yang artinya bersifat membedakan antara satuan bahasa. Coba ya simak kata-kata di bawah ini dan coba baca secara perlahan, resapi, pikirkan, dan temukan.
gilo (ini lo) x gila (menakutkan)
loro (dua) x lara (sakit)
soto (makanan) x sotho (dijotos, tonjok)
Tutuk (mulut) x thuthuk (pemukul)
wedi (takut) x wedhi (pasir)
pada (bait) x padha (sama)
Dari berbagai kasus yang ada, contoh kata-kata di atas merupakan kesalahan yang paling sering ditemukan dalam penggunaan kata-kata sehari-hari. Sesungguhnya, perbedaan dari kata-kata di atas hanya terdiri pada satu bunyi saja. Contohnya kata loro x lara, perbedaannya terletak pada /o/ dan /a/; soto x sotho perbedaannya adalah pada /t/ dan /th/; kata wedi x wedhi perbedaannya ialah pada /d/ dan /dh/. Bunyi yang dapat menyebabkan beberapa kata menjadi berbeda bentuk dan makna disebut dengan fonem.
Berdasarkan contoh kata-kata tersebut, maka yang pertama kita akan membahas mengenai vokal. Vokal dalam bahasa Jawa berjumlah tujuh, yaitu /a/, /ɔ/, /o/, /i/, /u/, /e/, dan /ə/. Berkaitan dengan contoh di atas, kita cukup membahas vokal /a/, /ɔ/, /o/ saja.
1) Vokal /a/
Vokal /a/ bahasa Jawa disebut juga dengan a swara miring. Vokal ini dapat berada di depan, tengah, dan belakang kata. Akan tetapi, yang terletak di belakang kata hanya ada dua, yaitu pada seperti pada kata ora dan boya, yang keduanya berarti "tidak". Contoh penggunaan vokal /a/:
Aku [aku] "saya" laris [laris] "laris"
Mau [mau] "tadi" bapak [bapaʔ] "bapak, ayah"
Ora [ora] "tidak" kocak [kocaʔ] "bergerak, guncang"
2) Vokal /ɔ/
Vokal /ɔ/ ini juga disebut dengan a swara jejeg. Vokal ini dapat berada di depan, tengah, dan belakang kata. Contoh penggunaannya seperti di bawah ini.
Amba [ɔmbɔ] "luas"
Sapa [sɔpɔ] "siapa"
Basa [bɔsɔ] "bahasa"
Kuna [kunɔ] "kuno"
Bata [bɔtɔ] "batu bata"
Pira [pirɔ] "berapa"
Rata [rɔtɔ] "rata"
Ana [ɔnɔ] "ada"
3) Vokal /o/
Vokal /o/ dalam bahasa Jawa dapat berada di depan, tengah, dan belakang kata. Contoh penggunaannya seperti di bawah ini.
Obah [obah] "bergerak"
Omah [omah] "rumah"
Kebo [kəbo] "kerbau"
Bojo [bojo] "suami atau istri"
Loro [loro] "dua"
Terlihat jelas perbedaan antara bunyi [ɔ] dan [a] serta [ɔ] dan [o] melalui contoh-contoh di atas yang dapat membedakan wujud dan makna kata. Dengan demikian, bunyi [ɔ] tersebut bukan alofon fonem [a] atau alofon fonem [o], namun termasuk fonem yang berbeda dari keduanya. Jadi, ketika kita akan menulis kata bahasa Jawa yang berkaitan dengan contoh di atas, maka terlebih dahulu kita harus mengingat bunyinya. Contoh kita akan menulis kata "raja". Langkah-langkah untuk mengurangi kesalahan dalam penulisan:
1. Raja, kata tersebut jika kita tuliskan menggunakan fonem /o/ untuk mengganti bagian /a/ depan dan belakang.
2. Setelah diganti, coba ucapkan fonem /o/ seperti menyebut fonem /o/ pada kata kebo.
3. Penyebutan fonem /o/ ialah dengan membulatkan mulut dan memajukan bibir.
4. Jika penyebutan tersebut dirasa aneh atau salah, maka penulisan kalian bisa jadi juga kurang tepat atau bahkan tidak tepat.
5. Penulisan yang benar dalam bahasa Jawa tetap "raja" [rɔjɔ] dengan vokal a swara jejeg seperti membaca kata "amba".
6. Ingat! Fonem /a/ dalam bahasa Jawa terdapat dua jenis yaitu a swara miring /a/ dan a swara jejeg /ɔ/. Apabila keduanya dituliskan dalam aksara Latin dan tanpa diakritik, maka penulisannya tetap menggunakan huruf "a", BUKAN menggunakan huruf "o". 《Hanya cara membacanya saja yang berbeda》
6. Ingat! Fonem /a/ dalam bahasa Jawa terdapat dua jenis yaitu a swara miring /a/ dan a swara jejeg /ɔ/. Apabila keduanya dituliskan dalam aksara Latin dan tanpa diakritik, maka penulisannya tetap menggunakan huruf "a", BUKAN menggunakan huruf "o". 《Hanya cara membacanya saja yang berbeda》
Dengan penjelasan di atas, semoga teman-teman dapat lebih memahami penulisan kata dalam bahasa Jawa, sehingga mengurangi kesalahan dalam penulisan. Dengan demikian, kita juga dapat menjaga serta melestarikan bahasa daerah dengan baik. Cukup dengan "mau belajar" dan menerapkan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari, kita sudah menjadi salah satu penghuni bumi Jawa yang mencintai dan merawat bahasanya.
Daftar Referensi
Poerwadarminta. (1939). Baoesastra Djawa. Groningen, Batavia: J.B. Wolters’ Uitgevers–Maatschappij N. V.
Sasangka, S. S. T. W. (2001). Paramasastra Gagrag Anyar Basa Jawa. Jakarta: Yayasan Paramalingua.
Comments
Post a Comment