Persiapan menjadi Madrasah Pertama (Part 2)


       Anak yang sudah terlahir di dunia, sebenarnya menjadi tanggung jawab keluarganya, sehingga yang menjadi madrasah pertama bagi dia ialah keluarganya. Tidak hanya Ibunya yang bertanggung jawab dengan tumbuh dan kembang anak, namun juga ayahnya, saudara-saudaranya, kakek neneknya, dsb. Karena anak akan belajar untuk yang pertama kali ketika dia berada di dalam rumah, yang tentunya bersama dengan keluarganya. Ketika sang anak sudah tumbuh menjadi remaja bahkan dewasa, apa yang akan terjadi, mau jadi apa dia, mau jadi siapa, dan bagaimana dia ke depan, itu sudah ditentukan oleh Allah sejak dia berada dalam janin Ibunya. Maka dari itu, keluarga, utamanya Ibu dan Ayahnya hanya bertindak sebagai sarana, bukan penentu mengenai masa depan dan kehidupan untuk sang anak tsb.
       Akan tetapi, sering terjadi pada zaman sekarang, banyak orang tua yang menjadikan keberadaan si anak sebagai alasan untuk menunda bahkan tidak menjalankan kegiatan positif baik untuk diri sendiri atau bermasyarakat. Contohnya, ketika anak masih kecil, masih bayi, wajar dong dia menangis, merengek, dan selalu ingin bersama Ibunya, ketika Ibunya berusaha meninggalkan dia saat tidur misalnya, terkadang dia akan terbangun dan menangis. Hal tsb sering dijadikan sebuah alasan seorang Ibu untuk menunda atau tidak melakukan sesuatu. Tidak semua begitu, namun ada. Contoh kecilnya lagi, ketika ada pengajian atau acara sosial lainnya, bisa jadi ketika para Ibu tidak datang, yang menjadi alasan ketika ditanya tetangga ialah “Aduh, anak aku tadi rewel, jadi aku nggak bisa datang deh ke pengajian tadi.”
       Berhubungan dengan pernyataan di atas, bahwa sekali lagi, untuk menjadi sosok madrasah pertama, kita harus mempersiapkan diri kita sendiri untuk menjadi sosok perempuan, sosok ibu, dan sosok orang tua yang dapat memberi asupan dan contoh yang baik serta benar bagi anaknya. Contoh yang baik dan benar itu dapat kita lakukan melalui sikap kita sehari-hari. Bagaimana pola komunikasi seorang ibu dengan ayahnya, dengan tetangga, atau masyarakat yang lebih luas lagi.
Tujuan Penciptaan Manusia
Manusia -->Ibadah-->Khalifah

Allah SWT berfirman:
وَوَصَّيْنَا الْاِ نْسَا نَ بِوَا لِدَيْهِ اِحْسَا نًا ۗ حَمَلَـتْهُ اُمُّهٗ كُرْهًا وَّوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۗ وَحَمْلُهٗ وَفِصٰلُهٗ ثَلٰـثُوْنَ شَهْرًا ۗ حَتّٰۤى اِذَا بَلَغَ اَشُدَّهٗ وَبَلَغَ اَرْبَعِيْنَ سَنَةً ۙ قَا لَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْۤ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْۤ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَا لِدَيَّ وَاَ نْ اَعْمَلَ صَا لِحًا تَرْضٰٮهُ وَاَ صْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْ ۗ اِنِّيْ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاِ نِّيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
wa washshoinal-insaana biwaalidaihi ihsaanaa, hamalat-hu ummuhuu kurhaw wa wadho'at-hu kurhaa, wa hamluhuu wa fishooluhuu salaasuuna syahroo, hattaaa izaa balagho asyuddahuu wa balagho arba'iina sanatang qoola robbi auzi'niii an asykuro ni'matakallatiii an'amta 'alayya wa 'alaa waalidayya wa an a'mala shoolihan tardhoohu wa ashlih lii fii zurriyyatii, innii tubtu ilaika wa innii minal-muslimiin

"Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia berdoa, Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada Engkau, dan sungguh, aku termasuk orang muslim."
(QS. Al-Ahqaf 46: Ayat 15)
* Via Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

Allah SWT berfirman:
وَاِ ذْ قَا لَ رَبُّكَ لِلْمَلٰٓئِكَةِ اِنِّيْ جَا عِلٌ فِى الْاَ رْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَا لُوْۤا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآءَ ۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَ ۗ قَا لَ اِنِّيْۤ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
wa iz qoola robbuka lil-malaaa`ikati innii jaa'ilun fil-ardhi kholiifah, qooluuu a taj'alu fiihaa may yufsidu fiihaa wa yasfikud-dimaaa`, wa nahnu nusabbihu bihamdika wa nuqoddisu lak, qoola inniii a'lamu maa laa ta'lamuun

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Aku hendak menjadikan khalifah di bumi. Mereka berkata, Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu? Dia berfirman, Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 30)
* Via Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

TUJUAN PENDIDIKAN
       Madrasah pertama untuk anak itu artinya kita juga harus menyiapkan pendidikannya yang tepat dan terbaik. Walaupun pendidikan di dalam rumah sudah dilakukan, namun dalam kehidupan ini masih sangat banyak hal-hal yang perlu dipelajari, dipahami, dan diamalkan. Sehingga, pendidikan akademis juga perlu ditempuh. Apa si sebenarnya tujuan pendidikan itu? Tentunya alasan yang pertama ialah menjadikan anak tsb seorang Imam, seorang pemimpin.
Allah SWT berfirman:
وَا لَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَـنَا مِنْ اَزْوَا جِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّا جْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَا مًا
wallaziina yaquuluuna robbanaa hab lanaa min azwaajinaa wa zurriyyaatinaa qurrota a'yuniw waj'alnaa lil-muttaqiina imaamaa
"Dan orang-orang yang berkata, Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa."
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 74)
* Via Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

       Kedua, supaya dapat mengelola diri sendiri ketika menjadi individu, dan mengelola sosial ketika dia menjadi komunal (baik saat berdua sebagai suami-istri maupun dengan sosial). Di dalam keluarga, anak ialah qurrota a’yun atau penyejuk hati bagi orang tuanya. Akan tetapi, dia juga dapat menjadi fitnah untuk kedua orang tuanya. Demi menyekolahkan anaknya, sudah pasti orang tua bekerja sekuat tenaga membanting tulang, mencari nafkah, demi memenuhi kebutuhan anaknya. Akan tetapi, yang menjadi fitnah di sini ialah ketika kedua orang tua melalaikan hubungannga dengan Allah ditengah-tengah kesibukan yang mereka lakukan.

Allah SWT berfirman:
وَا عْلَمُوْۤا اَنَّمَاۤ اَمْوَا لُكُمْ وَاَ وْلَا دُكُمْ فِتْنَةٌ ۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗۤ اَجْرٌ عَظِيْمٌ
wa'lamuuu annamaaa amwaalukum wa aulaadukum fitnatuw wa annalloha 'indahuuu ajrun 'azhiim

"Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar."
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 28)
* Via Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

Allah SWT berfirman:
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَا لُكُمْ وَلَاۤ اَوْلَا دُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu laa tul-hikum amwaalukum wa laaa aulaadukum 'an zikrillaah, wa may yaf'al zaalika fa ulaaa`ika humul-khoosiruun
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi."
(QS. Al-Munafiqun 63: Ayat 9)
* Via Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

Selain memahami apa sebenarnya tujuan dari pendidikan, alangkah lebih baiknya jika kedua orang tua sepakat membuat tujuan pendidikan untuk keluarganya, seperti di bawah ini.
Membentuk karakter mulia dengan cara:
a) Responsible (Amanah)
b) Integrity (Shiddiq)
c) Problem solver (Fathonah)
d) Care (Tabligh)

“Tubuh ini ialah milik kita, namun semua sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Semua yang ada di bumi ini ialah sekedar sarana. Jadilah teladan yang bik bagi anak-anak kita, seorang anak bisa jadi teladan juga untuk diri kita para orang tua, dia memang bisa saja salah, namun dia juga bisa jadi benar. Begitu pula dengan orang tua, sebagaimana manusia orang tua juga dapat melakukan kesalahan.”
Para calon Ibu, yuk persiapkan menjadi seorang Ibu yang cerdas dengan cara Iqra’, selalu mau belajar dan selalu rendah hati (mau belajar dengan siapapun). InsyaAllah....


Semoga bermanfaat ya ukhti, sama-sama belajar untuk lebih baik dan baik lagi. Saya share hasil kajian saya ini, bukan maksud saya lebih pandai, atau lebih paham dari kalian, tidak sama sekali. Saya masih jaaauuuuhhh sekali ilmunya, tapi saya mau belajar melalui kajian-kajian yang saya ikuti. Semoga istiqomah ya, doakan. Terima kasih Ustadzah Wulan Saroso. Terima kasih panitia Kajian Kemuslimahan Masjid Ukhuwah Islamiyah UI.



Comments