Allah SWT berfirman:
وَا لْعَصْرِ ۙ
wal-'ashr
"Demi masa."
اِنَّ الْاِ نْسَا نَ لَفِيْ خُسْرٍ ۙ
innal-insaana lafii khusr
"Sungguh, manusia berada dalam kerugian,"
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَا صَوْا بِا لْحَقِّ ۙ وَتَوَا صَوْا بِا لصَّبرِ
illallaziina aamanuu wa 'amilush-shoolihaati wa tawaashou bil-haqqi wa tawaashou bish-shobr
"kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran."
(QS. Al-'Asr 103: Ayat 1-3)
* Via Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com
***
Apa si 5 hal pertama yang kalian pikirkan ketika ditanya bagaimana sosok seorang “Ibu” di mata kalian?
Jika pertanyaan tsb ditujukan ke saya, saya akan menjawab bahwa Ibu itu ialah sosok yang kuat, sabar, ikhlas, lembut, dan penentu peradaban. Ada yang sepakat dengan saya?
***
Menjadi seorang Ibu bukan hal yang mudah, semudah kita berbicara “Itu sudah menjadi takdir kita sebagai perempuan”. Maka dari itu, takdir yang sudah Allah berikan ini mari kita persiapkan sebaik mungkin. Jangan menyia-nyiakan apa yang sudah Allah beri kepada kita. Sebelum kita para perempuan menjadi sosok madrasah pertama, akan lebih baiknya jika kita mengetahui betul siapa diri kita, bagaimana jati diri kita, supaya kita tahu bahwa apa yang kita tuang ialah sesuatu yang jernih, mulia, bermanfaat, dan sesuai dengan tempatnya. Seperti saat kita menuangkan air dari botol ke dalam sebuah gelas. Jangan sampai air yang kita tuang ialah air yang keruh dan tidak memenuhi gelas yang sedang diisi. Perempuan dilahirkan dengan banyak kemuliaan dari Allah, salah satunya adalah adanya beberapa tanggung jawab yang dia pikul dalam kehidupan di dunia ini, lewat sepasang bahu kokohnya.
1. Tanggung jawab kepada Allah
Allah SWT berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
wa maa kholaqtul-jinna wal-insa illaa liya'buduun
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56)
* Via Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com
2. Tanggung jawab kepada diri sendiri
Sosok perempuan yang Allah takdirkan untuk kita, harus kita jaga, apa yang ada di diri kita semua akan dipertanggung jawabkan kelak. Maka jaga apa yang harus dijaga dan jalankan apa yang membuat Allah ridho terhadap diri kita dan jalan kehidupan kita. Karena perempuan adalah makhluk yang sangat mulia.
3. Tanggung jawab kepada orang tua
Allah SWT berfirman:
وَوَصَّيْنَا الْاِ نْسٰنَ بِوَا لِدَيْهِ ۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصٰلُهٗ فِيْ عَا مَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِـوَا لِدَيْكَ ۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ
wa washshoinal-insaana biwaalidaiih, hamalat-hu ummuhuu wahnan 'alaa wahniw wa fishooluhuu fii 'aamaini anisykur lii wa liwaalidaiik, ilayyal-mashiir
"Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu."
(QS. Luqman 31: Ayat 14)
* Via Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com
4. Tanggung jawab kepada suami
Seseorang yang sudah berumah tangga wajib untuk bertanggung jawab kepada suaminya. Selalu meminta ijin kepada suami ketika akan melakukan apapun, apalagi kegiatan yang mengharuskan keluar rumah. Jangan lupa juga untuk selalu meminta ridho suami terhadap apapun yang akan kita kerjakan dan kita rencanakan.
5. Tanggung jawab kepada anak
Sosok perempuan sebagai ibu adalah sosok teladan untuk anak-anaknya, maka apa yang dilakukan dan dikatakan oleh ibu akan menjadi panutan untuk anaknya. Maka bertanggung jawablah terhadap apa yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, karena di situlah anak akan mulai belajar melalui apa yang dia lihat dan dia dengar.
6. Tanggung jawab kepada masyarakat
Perempuan apalagi sudah menjadi seorang ibu, harus pandai bersosialisasi, jangan menjadikan anak atau rumah tangganya (bagi yang sudah berkeluarga) sebagai kambing hitam dalam bersilahturahmi dengan masyarakat. Bagi perempuan yang masih belajar atau bekerja dan belum menikah, jangan menjadikan kegiatannya juga sebagai alasan atau batasan untuk selalu bersosialisasi dengan masyarakat sekitar.
Semenjak janin berada dalam rahim seorang perempuan, di saat itu pula perempuan telah diberikan kemuliaan. Oleh karena itu, janganlah kita memperdebatkan hal yang tidak bermanfaat, seperti di zaman sekarang yang sering kita baca di medsos atau dunia maya, memperdebatkan kelahiran sesar dan normal. Kita tidak perlu membedakan kedua hal tsb, apalagi memperdebatkannya. Semua jalan kelahiran adalah sebuah pengorbanan dari seorang perempuan dan seorang ibu. Keduanya adalah suatu hal yang berat dan menyakitkan.
Allah telah menciptakan rahim di dalam badan seorang perempuan dan seorang Ibu memasrahkan kehidupan bayi di dalam tubuhnya. Sejak dalam janin Ibu sudah menjadi madrasah untuk calon bayi yang kelak kita tidak tahu akan menjadi apa dan siapa dia. “Kelekatan”, kata tersebut lebih pantas dipakai sebagai istilah atau sebagai modal utama dimana madrasah pertama ialah seorang Ibu. Kelekatan yang dimaksud ialah saat pertama kali janin melekat pada rahim seorang perempuan. Janin di dalam rahim bergantung penuh dari Ibunya, apa yang sang Ibu makan dan minum, begitu pula apa yang Ibu rasakan, seperti rasa senang, sedih, dan perasaan-perasaan lainnya. Ibu lah yang menentukan apa asupan yang masuk ke dalam dirinya dan untuk janin yang sedang dikandungnya.
“Sesungguhnya seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah (bersatunya sperma dengan ovum), kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) seperti itu pula. Kemudian menjadi mudhghah (segumpal daging) seperti itu pula. Kemudian seorang Malaikat diutus kepadanya untuk meniupkan ruh di dalamnya, dan diperintahkan untuk menulis empat hal, yaitu menuliskan rizkinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagianya. Maka demi Allah yang tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Dia, sesungguhnya salah seorang dari kalian beramal dengan amalan ahli surga, sehingga jarak antara dirinya dengan surga hanya tinggal sehasta, tetapi catatan (takdir) mendahuluinya lalu ia beramal dengan amalan ahli neraka, maka dengan itu ia memasukinya. Dan sesungguhnya salah seorang dari kalian beramal dengan amalan ahli neraka, sehingga jarak antara dirinya dengan neraka hanya tinggal sehasta, tetapi catatan (takdir) mendahuluinya lalu ia beramal dengan amalan ahli surga, maka dengan itu ia memasukinya.”
[Diriwayatkan oleh al Bukhari dan Muslim]
n.b. Tulisan ini saya buat berdasarkan kajian kemuslimahan yang saya ikuti pada hari Rabu, 12 Februari 2020 bakda Asar di aula utama Masjid Ukhuwah Islamiyah UI. Pembicara pada sore hari itu ialah seorang praktisi homeschooling dan ketua komunitas homeschooling K Super, yaitu Ustadzah Wulandari Ekasari atau biasa dikenal dengan Wulandari Saroso.
Semoga bermanfaat ya, ukhti ♡

Comments
Post a Comment