Umur 14 tahun kala itu, mulai menyusun mimpi untuk menggapai UI. Alhamdulillah saat itu saya berada disalah satu SMP favorit di kabupaten saya, yaitu SMP Negeri 3 Purworejo. Tempat saya pertama kali membangun mimpi besar saya. Pertama kali saya mengetahui tentang Universitas Indonesia yang letaknya teramat sangat jauh bagi saya kala itu. Mimpi yang saya bangun begitu megah, namun saya membangun mimpi itu bertahap dari satu anak tangga ke anak tangga berikutnya.
***
Saya banyak mendengar bahwa lulusan salah satu SMA favorit di kabupaten saya banyak mencetak lulusan-lulusan yang menjadi mahasiswa/mahasiswi di UI. Semakin tertariklah saya dengan SMA itu, namun sebelumnya memang saya sudah mengidam-idamkan SMA itu, ya SMA N 1 Purworejo. SMA yang setiap saya lewati, saya selalu bersolawat dan selalu mengucapkan harapan-harapan baik saya.
Saya mulai membangun mimpi dengan cara berusaha dan tentunya berdoa. Tak lupa juga restu dari kedua orang tua, juga doa dari keluarga yang selalu menginginkan hal yang terbaik untuk saya. Setiap anak tangga itu saya bangun dan saya lalui dengan lika-likunya masing-masing, dengan tanjakkan yang tak sama dan kekuatan yang tak sama pula. Tantangan yang saya lalui semakin berat walaupun tujuan saya semakin dekat (rasanya).
Jujur, masa SMA adalah masa-masa perubahan dalam hidup saya. Saya lebih banyak menemukan arti "hidup" dan "perjuangan" di sana, diseragam putih abu-abu. Dapat dibilang masa SMA saya tidak seindah masa SMP saya, jika saya lihat dari perjuangan yang saya lalui. Banyak rintangan yang amat sangat berat untuk saya di masa itu. Entah dari akademik, pertemanan, percintaan, bahkan kehidupan pribadi saya. Pahit, manis, asam, asin sudah lengkap saya rasakan. Akan tetapi, dari beragam rasa yang saya terima, justru dapat membuat saya menjadi suatu pribadi yang utuh, yang membuat saya banyak berubah menjadi pribadi yang semakin "nyaman".
Saya berdamai dengan diri saya sendiri. Saya berjuang keras untuk berada di posisi "nyaman" itu sendiri. Nyaman terhadap apa yang saya ucapkan, yang saya lakukan, yang saya tuliskan, yang saya dengar, yang saya rasa, dan yang saya pikirkan. Karena mulai dari "nyaman" kita akan merasa "tenang". Dan dengan tenang itulah saya dapat melalui hidup saya dengan baik dan tepat.
(Di sini saya bukan ingin bersombong ria, tapi saya hanya ingin membagikan cerita, bahwa terkadang mimpi besar terwujud saat kita sudah tak berharap dan justru saat kita mampu pasrah kepada si Pemilik Hidup.)
Saya berdamai dengan diri saya sendiri, saya berusaha memaafkan apa yang salah dengan diri saya, saya berusaha mengikhlaskan kejadian-kejadian pahit yang saya terima, saya membuka lembaran baru dengan prinsip bahwa hidup saya harus lebih baik. Saya memang bukan tipe orang yang menuliskan resolusi hidup ataupun cita-cita kemudian ditempel di kamar atau meja belajar. Saya mencoba menjalani kehidupan apa adanya, namun dengan tujuan yang jelas dan prinsip yang matang. Cukup ada di kepala dan di hati saja. Selalu dikatakan dalam doa, tertanam dihati, dan berusaha dalam setiap langkah dan nafas yang ada.
Saya hanya ingin menjadi lebih baik dari segi apapun. Tentunya niat baik itu tidak berjalan mulus begitu saja, sesuatu yang baik terkadang datang bersamaan dengan cobaan yang berat. Hadapi! apalagi yang bisa saya lakukan. Menyerah? Tentu sering...sering rasanya ingin menyerah, tapi bagaimana dengan tujuan saya? bagaimana dengan prinsip saya? Jika saya maju mungkin hanya saya yang akan merasakan luka, tapi jika saya mundur, orang tua dan keluarga saya pasti akan terluka dan kecewa. Lebih baik satu orang terluka tapi bisa menyelamatkan yang lainnya, daripada semua akan terluka.
Tahun 2012 saya sedang membangun anak tangga kedua untuk menuju ke salah satu mimpi besar saya. Subhanallah......sungguh membangun anak tangga kali ini adalah hal yang sangat berat bagi saya. Tahun 2012 adalah tahun yang penuh dengan bencana yang hampir merobohkan anak tangga saya. Tapi alhamdulillah, atas ijin Allah, anak tangga saya masih bisa menopang dengan kokoh.
Saya membangun anak tangga kedua tentu tak lepas dari ridho orang tua. Akan tetapi, ridho mereka berbeda dengan tujuan saya. Tidak seperti anak tangga pertama yang dibangun dengan lancarnya. Ya, mereka tidak setuju dan sangat menolak ketika saya meminta doa restu untuk melanjutkan sekolah saya ke UI, ke tujuan megah saya. Saya tetap berusaha yakinkan mereka, sampai di titik saya rasa saya sudah tak ada celah untuk menolak ridho mereka. Baiklah, karena prinsip saya ingin menjadi pribadi yang lebih baik, maka saya seharusnya menjalankan apa yang menjadi ridho orang tua saya.
Bismillah...saya tidak mencantumkan UI (kampus idaman saya) di halaman pendaftaran SNMPTN kala itu. Ridho orang tua saya saat itu ialah saya melanjutkan sekolah di universitas yang berada di Yogyakarta atau Solo. Baik, saya lakukan itu. Tentunya masih dengan jurusan yang saya inginkan. Akan tetapi, rintangan saya tidak cukup sampai di sini. Orang tua saya menginginkan saya mengambil jurusan yang selama ini saya hindari, karena saya tidak suka berada di bidang itu, dengan alasan saya yang pada saat itu sangat mantap dan tegas. Tapi Allah itu memang luar biasa. Saat saya berkata tidak, justru Allah berkata iya.
Diterimalah saya di universitas yang sama sekali tidak ada dalam mimpi saya. Singkat cerita, saya menjalani dunia perkampusan di Yogyakarta, tempat yang nyaman sekali bagi saya, tempat yang indah, tentram, kaya akan budaya, pokoknya benar-benar istimewa. Saya menikmati kuliah saya karena saya dipertemukan dengan sahabat-sahabat rasa saudara dan dijodohkan dengan kegiatan-kegiatan di luar akademis yang memang saya minati. Alhamdulillah....
Seperti yang saya ceritakan di anak tangga sebelumnya, ketika saya berdiri di anak tangga ini saya tidak henti-hentinya mendapat rintangan yang amat sangat berat bagi saya kala itu, yang menjadikan saya yakin bahwa semakin tinggi suatu tempat terpaan angin akan semakin terasa dan membuat kita goyah bahkan terjatuh. Selama saya hidup di Yogyakarta, saya berusaha membangun anak tangga lagi untuk melanjutkan mimpi besar saya yang lain. Walaupun mimpi besar yang megah itu saya ganti tujuannya, namun bagi saya, mimpi itu tak akan pernah saya padamkan begitu saja.
Karena saya terlanjur nyaman hidup sebagai orang Yogyakarta, saya merasa yakin bahwa anak tangga yang saya bangun tak perlu lebih jauh, cukup berada di kota itu saja. Anak tangga yang saya bangun hanya berjarak dari UNY ke UGM, UGM tempat impian megah saya selanjutnya. Diiringi dengan saya bekerja sebagai guru, saya juga sibuk mempersiapkan diri, mempersiapkan administrasi, dan mempersiapkan materi untuk menghadapi rintangan demi menggapai mimpi. Selain mengajar di sekolah, saya juga mencoba bisnis kecil-kecilan dengan olshop yang saya bangun sejak saya masih kuliah, kemudian saya juga memiliki beberapa siswa les privat, membuat saya semakin yakin berada di kota itu. Kota yang membuka banyak pengalaman dan kesempatan kepada saya.
Terima kasih Jogja. Karena mu saya mampu melipur kesedihan saya dengan tidak sampainya saya pada mimpi megah saya saat SMP-SMA. Jogja membuat saya lupa, hanya lupa, tidak memusnahkan mimpi megah itu rupanya. Doa saya mengiringi perjuangan saya untuk membangun anak tangga yang lebih kokoh, saya tidak hanya berdoa dengan menyebut tempat impian saya, tapi saya selalu menambahkan dengan kalimat "Jika memang itu ridho-Mu ya Allah, berilah saya kesempatan untuk bisa meraih mimpi saya di UGM, kalau memang UGM bukan yang tepat dan Engkau tidak meridhoi mimpi saya ini, saya pasrah, saya percaya bahwa jalan yang Kau berikan adalah jalan paling baik untuk saya dan tempatkanlah saya di tempat yang tepat untuk saya".
Saya tidak pernah memaksakan mimpi saya dalam doa saya, karena saya tahu ada tiga kepastian dalam setiap mimpi, terkabulkan, belum terkabulkan, dan tidak terkabulkan. Maka saya tidak akan melangkahi kehendak Allah. Itu persepsi saya....mohon maaf apabila ada yang salah atau ada yang berbeda dengan persepsi saya. Segala perjuangan sudah saya lakukan untuk membangun anak tangga yang kokoh dalam menggapai tujuan saya dari UNY ke UGM. Pada titik terakhir saya berjuang, saya baru tahu bahwa ternyata Allah tidak meridhoi saya untuk berdiri di sana. Saya tidak gagal, saya sudah semaksimal mungkin berusaha dan alhamdulillah hasil dari tes syarat masuk UGM sudah saya penuhi semua.
Akan tetapi, Allah memang punya segala cara untuk membuat saya semakin kuat. Saya dihadapkan lagi dengan angin yang begitu kencang, yang sudah membuat saya terjatuh, menangis, dan sulit untuk kembali bangun. Tapi dapat saya pastikan, anak tangga yang sedang saya bangun tidak roboh ataupun rusak. Dia masih kokoh berada di tempatnya. Saya butuh waktu untuk kembali berdiri dengan dua kaki saya sendiri. Kembali menapaki anak tangga yang sudah saya dirikan dengan usaha dan doa saya bersama orang-orang yang menyayangi saya. Saya tidak gagal! begitu seru saya dalam hati. Saya dapat melaksanakan tes dengan baik, saya sudah berjuang dengan maksimal, namun memang kenyataannya bahwa Allah tak mengijinkan saya menjadi mahasiswi di sana. Tidak ada yang perlu disesali, karena saya tidak gagal, Allah hanya sedang menunda.
Saya melihat masih ada peluang untuk saya menapaki anak tangga yang baru, saya bangun lagi anak tangga itu dengan tangis dan sakit yang tak bisa dipungkiri masih muncul tiba-tiba. Rasa sakit yang tidak hanya saya rasakan, tapi juga orang tua, keluarga, dan orang-orang terdekat saya yang tahu perjuangan saya. MasyaAllah......Saya membangun anak tangga lagi dengan bantuan dan dukungan dari orang-orang yang sangat menyayangi saya dan sangat saya sayangi. Saya, anak yang pernah meminta, merengek, sampai terpuruk 7 tahun lalu untuk dapat menggapai mimpi di UI, saat itu ia kembali meminta restu untuk mencoba kesempatan satu-satunya yang masih ada. Yaitu kesempatan untuk mendaftar tes masuk di UI.
Tidak mudah, jawaban pertama yang saya dapat masih sama dengan 7 tahun yang lalu. Orang tua saya kekeh untuk tidak memberi ijin saya melanjutkan kuliah S-2 di UI, kampus yang bagi mereka sangat jauh tempatnya untuk seorang saya. Akan tetapi Allah Maha membolak-balikkan hati. Hanya selang hitungan jam, orang tua saya merestui saya untuk mencoba membangun anak tangga menuju UI. Saya diberi kesempatan untuk mendaftar tes masuk yang sebentar lagi sudah mau mencapai tenggatnya.
Alhamdulillah Allah beri kelancaran dan kemudahan, saya dapat melalui serangkaian pendaftaran dan tes dengan lancar dan baik. Jujur, saat itu saya sangat pesimis untuk bisa diterima. Soal-soal tesnya bagi saya sangat sulit, ditambah kuota penerimaan yang sangat sedikit, dan kesadaran saya yang besar jika saya hanya orang yang mengandalkan keberuntungan. Saya sudah berjanji pada diri saya sendiri, jika memang perjuangan saya kali ini juga belum diridhoi oleh Allah, maka saya akan bersabar untuk mempersiapkan waktu dan tenaga untuk kembali membangun anak tangga lagi. Akan tetapi, keberuntungan berpihak kepada saya. Saya dinyatakan lolos seleksi masuk UI. Saya diterima! Saya sudah menjadi bagian dari keluarga besar UI.
Senang, sedih, bangga, takut, bingung, semua rasa campur aduk menjadi satu menghasilkan tangis yang tertunda selama tujuh tahun lamanya. Setelah hati saya tenang, pikiran saya mulai tertata, saya baru menyadari, bahwa mimpi megah saya tidak pernah saya buang begitu saja. Ia masih melekat erat dalam diri saya, dalam doa-doa yang saya panjatkan, dalam keyakinan saya terhadap sang Pencipta. Perasaan saya yang pasrah menjadikan saya tidak menuntut mimpi saya dalam doa-doa yang saya ucapkan dalam batin saya disetiap hembusan napas kehidupan yang lika-liku ini. Anak tangga saya yang keempat semakin kokoh dan semakin menjulang tinggi menuju tujuan yang dulu hanya menjadi mimpi saya semata.
Sekarang saya tahu, ketika saya berani membangun mimpi yang megah, saya harus berani melewati jalan dan rintangan yang terjal dengan tidak mudah. Semakin megah mimpi, semakin terjal rintangan dan jalan yang dihadapi. Anak tangga kedua dan ketiga yang tidak sempat mengantarkan saya pada tujuan saya kala itu, telah mengantarkan saya ke tempat yang lebih jauh, saya memang harus membangun empat anak tangga untuk sampai ke impian megah saya. Coba saja kalau saya cukup berhenti di anak tangga kedua atau ketiga, mungkin saya tidak dapat merasakan bagaimana menaiki empat anak tangga yang berbeda tanjakannya.
Untungnya, dulu saya mengikuti apa kata orang tua, ridho orang tua. Walaupun dengan sikap saya yang mungkin keras waktu itu, tapi saya tetap menjalankan apa yang menjadi ridho mereka. Dengan itu semua, saya akhirnya dapat menggapai tujuan saya, 10 tahun yang lalu. Jika ada yang bilang apa yang saya dapat sekarang adalah hal yang mudah, itu salah besar. Tak ada hal besar yang didapat dengan mudah bukan? Ya, bagi saya ini adalah hal besar. Karena saya butuh waktu yang lama untuk mewujudkannya, dengan jatuh yang tak terhitung, tangis yang bergaung, sakit yang mengepung, serta usaha dan doa yang selalu bersambung. Rintangan yang waktu itu saya rasa sebuah kesakitan, sebenarnya cara Allah untuk saya merasakan kebahagiaan.
***
Semoga cerita saya bisa menjadi inspirasi kalian yang sedang memperjuangkan mimpi besar nan megah. Apapun itu, entah sekolah,perlombaan, kuliah, kerja, jodoh, semoga semua dikuatkan dalam perjalanan. Jangan ubah tujuan, tapi fleksibel lah dalam menentukan jalan. Doa jangan sampai ketinggalan, usaha selalu dilakukan dalam setiap gerakan. Semangat untuk kita semua! Semoga tercapai segala mimpi besarnya!! dan semoga bermanfaat ya sharingnya.
Comments
Post a Comment