Mencintai Naskah Kuno

       Hai generasi milenial, apa yang ada dibenak kalian ketika ada sebuah pertanyaan "apakah yang kamu bayangkan saat mendengar kata naskah kuno?", apakah seonggok buku tua yang menyeramkan? buku berdebu yang telah usang dan berayap? Atau buku-buku yang menyimpan daya magic yang tinggi? Silakan menjawab di batin kalian masing-masing. Karena aku tak selalu mengerti suara batin kalian, karena hanya suara batin dia lah yang selalu coba ku tangkap (ahelaah). 

       Sebelumnya aku ingin bercerita tentang pengalaman pribadiku sampai dapat mengenal, saling menyapa, dan kemudian saling mencinta (dengan naskah kuno). Saat S-1 aku belajar mata kuliah "filologi" dengan dosen yang bagiku mengagumkan, masyaAllah.....Mata kuliah filologi ku terima selama 3 semester dengan beban 2 sks setiap semesternya. Pertama kali aku mengenal istilah filologi aku sudah jatuh cinta,  karena bagiku filologi itu unik, menantang, indah, luas, dan menarik. Entah cara menyampaikan dosenku yang memang memukau atau memang sudah takdir hatiku tertambat oleh mata kuliah ini. Kebetulan juga karena mata kuliah ini mengharuskan mahasiswanya untuk lancar membaca aksara Jawa, yang kebetulan juga salah satu mata pelajaran paling favoritku sejak SD. Sejak SD aku telah suka pada aksara Jawa, menghafal dan terus menghafal hingga lancar. Jadi, alhamdulillah mata kuliah filologi terlampaui dengan baik.

Apa si sebenarnya filologi?

        Menurut KBBI, "Filologi adalah ilmu tentang bahasa, kebudayaan, pranata, dan sejarah suatu bangsa sebagaimana terdapat dalam bahan-bahan tertulis". Bahan tertulis itulah yang disebut naskah dan di dalam naskah terdapat teks yang memuat isi dari naskah tersebut. Di bangku kuliah aku sekadar belajar teori filologi dan belajar membaca naskah dengan aksara Jawa serta Pegon. Akan tetapi, belum sampai pada penelitian filologi secara lengkap sesuai dengan langkah-langkahnya. Tibalah di suatu waktu dimana bertemu dengan mata kuliah seminar proposal yang mengharuskan mahasiswanya untuk memilih tema skripsi. Baiklah, di sinilah letak percintaanku dimulai.
       Dengan segala kebimbangan yang ku miliki, akhirnya aku memilih bidang filologi untuk tema skripsiku. Dengan perasaan yakin tak yakin sebenarnya. Karena kajian filologi ini termasuk kajian terberat di jurusanku saat itu. Tidak hanya aku, ada teman-teman lain yang juga mengambil bidang yang sama denganku. Pencarian naskah kuna pun aku lakukan, seperti mencari tambatan hati, aku pun memilih dan memilah naskah yang sesuai dengan isi hatiku. Tertambatlah aku pada beberapa naskah. Singkat cerita aku memilih salah satu naskah diantaranya, alasanku memilih naskah itu ialah karena keadaan hurufnya masih baik dan keadaan fisik naskah secara keseluruhan masih baik pula. Ohya, naskah yang aku pilih ini adalah naskah cetak, bukan naskah tulisan tangan. Karena masih S-1, jadi kampus memberi kebijakan boleh menggunakan naskah cetak. Berawal hanya melihat fisiknya, kemudian aku temukan ia dan memulai untuk mencinta dengan cara aku membaca isi hatinya, eh maksudnya isi teksnya. Dan muncullah sebuah kegalauan, karena isi dari teks itu setelah dibaca secara keseluruhan ialah menceritakan mengenai kebatinan manusia Jawa dan berhubungan dengan Manunggaling Kawula Gusti. Bagi orang seperti aku, kajian ini menurutku sangat berat. Tapi alhamdulillah, lewat kegalauan itu aku menemukan kecintaan pada naskah ini lewat isinya. Dengan segala kesabaranku dan dosen pembimbingku tentunya, aku dapat menyelesaikan kajian filologi ini dengan waktu yang cukup lama, haha. (Jangan dicontoh ya para pejuang skripsi). 
          Akan tetapi, janji Allah itu nyata, setiap sakit pasti ada obatnya. Setelah bersakit-sakit mengerjakan skripsi, alhamdulillah Allah memberikan obat yang sangat mujarab dengan menempatkanku pada jurusan filologi untuk studi lanjutku. Seperti sudah ditakdirkan lewat jalan yang memang harus ku tempuh sendiri dengan segala rintangannya, akhirnya aku menemukan tujuanku yang sesungguhnya, insyaAllah.  Begitu kurang lebih cerita perjalananku dalam mengenal hingga mencintai naskah kuno. Naskah kuno bagiku adalah harta karun yang amat sangat berharga. Walaupun dikatakan kuno, namun isinya banyak yang relevan dengan kehidupan zaman sekarang. Tidak sedikit yang menggunakan naskah sebagai landasan dalam membuat atau melakukan sesuatu. Salah satu contohnya, produsen jamu di Indonesia yang sudah melegenda sebenarnya mengambil resep jamu dari salah satu naskah obat-obatan, untuk kemudian diracik sendiri dan dijual di pasaran. Mengagumkan....
           Sayangnya, generasi milenial jarang bahkan tidak ada yang mau berkenalan dengan naskah kuno. Padahal, naskah-naskah kuno ini sudah banyak yang dirawat dengan sebaik mungkin di perpustakaan-perpuatakaan negeri. Di Yogyakarta misalnya, kalian dapat mengunjungi Perpustakaan Museum Sonobudoyo di daerah Wijilan. Selain itu dapat mengunjungi Rumah Budaya Tembi di Bantul, Balai Bahasa Yogyakarta di Kota Baru, Perpustakaan Keraton Ngayogyakarta di dalam area Keraton, Perpustakaan Dewantara Kirti Griya di Taman Siswa dan Perpustakaan Pura Pakualaman. Di sana, naskah-naskah dirawat dengan penuh cinta. Banyak yang sudah digitalisasi juga untuk memudahkan pengunjung dalam melihat dan membacanya, karena tidak setiap naskah dalam kondisi yang baik untuk dipegang secara langsung apalagi untuk dibuka dan dibaca. Yuukk... kalau liburan kita isi dengan kegiatan produktif!! Datangi dahulu perpustakaan-perpustakaan itu, coba lihat dahulu seperti apa bentuk-bentuk naskah kuno, baca pelan-pelan (eits banyak juga naskah yang sudah di alih aksara serta alih bahasakan loh, jadi kalian tidak perlu membaca aksara aslinya), siapa tahu kalian jatuh cinta. Tanpa mengenalnya, jauhlah kita dari kata jatuh cinta. Bukankah begitu?

Membaca naskah kuno ialah seperti menyelami masa lalu yang penuh dengan makna dan cinta.

Terima kasih telah bertahan untuk hidup sampai masa kini, siapa tahu kelak permasalahan-permasalahan yang ada di bumi pertiwi ini dapat padam secara perlahan dengan hadirnya pemikiran-pemikiran hebat dari orang-orang terdahulu yang sudah tak dapat lagi dimengerti kecuali dari tulisannya.

Comments