Enam Puluh Menit

Coba sini kita duduk berdua
Berhadapan
Memegang telinga cangkir dengan erat
Sesekali menyeruputnya
Menikmati perbincangan hangat
Jangan berdiri
Tidak enak
Bisa saja nanti kamu berlari
Duduk saja sini
Tenang
Aku tidak jahat
Jangan takut
Kamu bukan penakut
Mari kita masing-masing membawa diri
Berbincang dengan kata-kata yang tepat
Tapi jangan yang berat-berat
Otakku tidak kuat
Cukup dengan kalimat lugas yang tegas
Tapi jangan seperti jawaban iya atau tidak
Utarakan saja
Selayaknya aku pendengar baikmu
dan sebaliknya
Kenapa diam?
Sepuluh detik kamu diam
Tiga puluh detik kamu diam
Sepuluh menit kamu diam
Dua puluh menit aku tak bisa diam saja
Aku membuka mulutku
Dengan ketidaksabaranku
Aku ceroboh
Tersulut amarah yang membuncah
Akibat panasnya hawa saat itu
Karena diammu
Maaf
Aku menyampaikan dengan cara yang tak seharusnya
Aku berusaha memadamkannya
Lewat air yang jatuh dari pelupuk mata
Deras
Sederas hujan yang jatuh saat musimnya
Maaf
Mulutku tak bisa lagi ku jaga
Seolah ada mesin otomatis yang berbunyi saat tombol
ditekan
Ya, tombol itu ada di antara kita sekarang
Tentang suasana yang kau ciptakan
Tentang dorongan-dorongan yang tak bisa ku cegah lagi
Maaf
Aku berkata tak selayaknya
Menuduhmu tentang ini itu
Mempermasalahkan kebaikanmu
Meniadakan sekat antara kita
Bahwa kita hanya sebatas laki-laki dan perempuan yang
baru saja bertemu
Mengenal dalam diam
Dan tiba-tiba aku jatuh cinta
Maaf
Aku tak bisa menata kata
Untuk mengakui apa yang ada
Enam puluh menit kamu diam
Enam pulih menit juga aku sekarang sudah berdiri
Melangkah meninggalkan kursi yang begitu dingin
Meninggalkan ruang yang begitu sesak
Menyisakan pipi yang terbasuh air pedih
Atas perasaan yang salah
Jadilah aku berlari keluar
Tanpa kau kejar

Comments