Sepertinya aku sedang rindu
Melihat tidurmu yang nyenyak
Dengan kulit tipis yang membalut tulangmu
Tergambar sosok penuh semangat
Pantang menyerah
Dan kerja keras
Ku berlari ke kamar
Memandang di depan kaca panjang, lemari baju
dari wajah, badan, hingga kaki
Begitu hebat Allah menciptakan umat-Nya
Ia menciptakan perantara untuk membuatku tumbuh besar
Iya besar, tak sekurus dia
Kata "Besar" tak cukup berhenti pada itu
Besar hati dalam menerima segala kekurangan
Begitu ia ajarkan sejak aku belum begitu mengenal dunia
Dia adalah inspirasi ketika yang bernama kebahagian direnggut begitu saja
Dia adalah pemain terbaik Allah dalam mengarungi gelombang pasang surut kehidupan
Dia adalah orang terkuat sepanjang jaman
Ku amati dari tidurmu
Karena hanya saat matamu terpejam aku berani menatap
Tulang yang semakin menonjol
Raut wajah yang semakin menua
Uban yang semakin berlomba memperlihatkan diri
Membuatku enggan untuk sering menatapmu
Aku takut
Ketika harus menerima kenyataan
Kau telah termakan usia
Dan aku masih begini-begini saja
Dengan matamu yang terpejam
Rinduku terbalas sudah
Menatapmu lama
Seakan terkena cambuk hati ini
Begitu tersayat, perih, dan terluka
Apa yang sudah aku berikan selama ini untukmu, AYAH?? Sebatas kenakalanku saja? Sebatas meminta uang saku?? atau sebatas anak yang selalu merepotkan dan menyebalkan??
Adakah banyak kesempatan untukku membalas semua yang tak pernah akan dapat terbayar lunas?
Dan semua itu ku kembalikan pada sutradara kehidupan
Terima kasih Kau telah suguhkan drama dengan lawan pemain seperti dia
Karena dia tak pernah memberikan suatu kebosanan ketika aku harus melanjutkan peran demi ending yang membahagiakan :)
Melihat tidurmu yang nyenyak
Dengan kulit tipis yang membalut tulangmu
Tergambar sosok penuh semangat
Pantang menyerah
Dan kerja keras
Ku berlari ke kamar
Memandang di depan kaca panjang, lemari baju
dari wajah, badan, hingga kaki
Begitu hebat Allah menciptakan umat-Nya
Ia menciptakan perantara untuk membuatku tumbuh besar
Iya besar, tak sekurus dia
Kata "Besar" tak cukup berhenti pada itu
Besar hati dalam menerima segala kekurangan
Begitu ia ajarkan sejak aku belum begitu mengenal dunia
Dia adalah inspirasi ketika yang bernama kebahagian direnggut begitu saja
Dia adalah pemain terbaik Allah dalam mengarungi gelombang pasang surut kehidupan
Dia adalah orang terkuat sepanjang jaman
Ku amati dari tidurmu
Karena hanya saat matamu terpejam aku berani menatap
Tulang yang semakin menonjol
Raut wajah yang semakin menua
Uban yang semakin berlomba memperlihatkan diri
Membuatku enggan untuk sering menatapmu
Aku takut
Ketika harus menerima kenyataan
Kau telah termakan usia
Dan aku masih begini-begini saja
Dengan matamu yang terpejam
Rinduku terbalas sudah
Menatapmu lama
Seakan terkena cambuk hati ini
Begitu tersayat, perih, dan terluka
Apa yang sudah aku berikan selama ini untukmu, AYAH?? Sebatas kenakalanku saja? Sebatas meminta uang saku?? atau sebatas anak yang selalu merepotkan dan menyebalkan??
Adakah banyak kesempatan untukku membalas semua yang tak pernah akan dapat terbayar lunas?
Dan semua itu ku kembalikan pada sutradara kehidupan
Terima kasih Kau telah suguhkan drama dengan lawan pemain seperti dia
Karena dia tak pernah memberikan suatu kebosanan ketika aku harus melanjutkan peran demi ending yang membahagiakan :)
Comments
Post a Comment