Silakan para pembaca blogger, selamat menikmati cerpen yang saya buat. Semoga menyenangkan. Cerpen ini saya buat sederhana, karena tujuannya untuk bacaan anak-anak.
Ibu selalu menjadi orang serba bisa di
rumahku, dan ayah selalu menjadi orang serba bijak dalam hari-hariku. Merekalah
orang terhebat dalam sejarah kehidupanku hingga sekarang aku berusia 9 tahun, dan
masih diberi kesempatan untuk menghirup udara segar dari alam yang selalu damai
dengan keberadaan mereka. Aku tinggal di sebuah rumah yang sedang, tak begitu
kecil juga tak begitu besar. Suasana pedesaan yang aku tempati membuat suasana
semakin damai dan tentram. Ibu yang sedari kecil hidup di tengah keluarga biasa
yang tak pernah ingin ketinggalan dalam bidang pendidikan, dan ayah yang sedari
kecil hidup sebagai anak tunggal yang dapat dibilang dari keluarga berada.
Ibu sore ini masih belum pulang dari
kantornya. Nenek bilang, Ibu masih mengajar extracuriculer
di sekolahnya. Ibu memang pandai menari, pendidikan Ibu pertama kali yaitu D2
seni tari, tidak heran jika Ibu sering menjadi panutan siswa/siswinya dalam
belajar tari. Begitu pula aku, aku juga menurun bakat Ibu, aku senang menari
semenjak kecil, dengan Ibu sebagai pelatihnya. Ayahpun juga belum pulang dari
kantor, kalau ayah memang setiap harinya pulang sore, kecuali untuk hari Jumat,
yang merupakan hari pendek. Jadi untuk itu, aku tidak menanyakan keberadaan
ayah pada nenek. Aku yang pulang sekolah semenjak pukul 13.00 WIB, tidak keluar
kamar setelah makan siang. Nenek sibuk dengan merapikan dapur dan ruang makan,
jika sudah selesai, nenek biasanya duduk di depan televisi.
Aku lebih sering berada di kamar sebelum
ayah atau ibu pulang terlebih dahulu. Pesan ayah setiap pagi sebelum berangkat
kerja, “Dhia, nanti sepulang sekolah lakukanlah hal yang bermanfaat, jangan
biarkan keinginan main sama teman-teman kamu nomer satukan, pilihlah hal yang
lebih penting dahulu, istirahatlah, baru kalau mau bermain setelah lelahmu
hilang, nak”, begitu selalu pesan ayah kurang-lebihnya dengan kata-kata yang
bagiku sangatlah bijak. Maka dari itu, aku selalu masuk kamar setelah berganti
baju, cuci kaki dan tangan, makan, dan beribadah. Aku dapat bermain jika sedang
ingin, setelah melihat kedua orang tuaku pulang, atau salah satu pulang lebih
dulu, karena kedatangan merekalah salah satu penghilang rasa lelahku.
“Nek, satu minggu itu tujuh hari kan?”,
aku bertanya pada nenek yang mendekatiku ke kamar. “Iya, Dhia cucuku yang
sholekhah. Ada PR dari Ibu guru ya?”, jawab nenek disertai dengan tangan
lembutnya yang mengelus rambut panjangku. “Iya nek, tadi Ibu guru kasih PR,
Dhia sama teman-teman disuruh menghafalkan jumlah hari per minggu, per bulan,
dan per tahun, nek”. “Ya sudah, Dhia belajarnya jangan sambil tiduran terus,
nanti matanya sakit. Dalam satu minggu itu betul ada tujuh hari, Senin, Selasa,
Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Ahad.”, jawab nenek dengan pelan. “Mana hari
Minggunya nek?”, jawab aku yang kebingungan kenapa hari yang paling
menyenangkan bagiku tak disebutkan oleh nenek. “Dhia, Ahad itu nama Arabnya
hari Minggu, dalam kalender Hijaiyah atau kalender Islam, tidak disebut Minggu,
melaikan Ahad”, begitu jawab nenek. Aku yang masih penasaran kembali bertanya,
“Lalu Nek, kenapa hanya Minggu yang punya nama di kalender Hijaiyah, hari yang
lain juga punya nggak, Nek?”, “Hari yang lain juga ada namanya dalam kalender
Hijaiyah cucuku, dengarkan nenek ya, kalau Senin itu Itsnayn, Selasa Tsalaatsa,
Rabu Arba’aa, Kamis Khamsatun, Jumat Jumu’ah, dan Sabtu itu Sabat”, “Wah susah
ya nek nama-namanya, nenek ulangi pelan-pelan, biar Dhia tulis di buku ya,
Nek”, aku selalu mendapat ilmu baru dari orang-orang terdekatku, seperti halnya
nenek yang hampir setiap hari mengajariku satu hal yang belum aku ketahui.
“Assalamualaikum”, “Waalaikumsalam”,
serentak aku dan nenek menjawab salam dari kepulangan ayah. “Ayah kok tumben
pulang lebih cepat dari ibu?”, tanyaku heran. “Iya Dhia, tadi ayah ada rapat
dari siang, kebetulan selesainya cepat”. “Dhia baru diajarin nenek nama-nama
hari dalam kalender Islam, yah”, aku mamerin ilmu baruku ini ke ayah. “Wah anak
ayah yang sholekhah ini makin banyak ilmunya ya, yaudah ayah ganti baju dulu
ya”. Aku kembali ke kamar merapikan catatan tentang nama-nama hari dalam
kalender Islam yang baru saja nenek berikan kepadaku. Satu jam kemudian ibu
pulang, suara motor ibu sudah terekam jelas oleh telingaku. “Assalamualaikum,
Dhia, anak cantik”, begitu ibu menyapaku dengan mencolek pipi tembemku. “Waalaikumsalam
ibu”, aku menjawab dengan mencium pipi ibu. Ayah keluar dari kamar dengan
pakaian yang sudah digantinya dari
pakaian kantor menjadi pakaian rumah yang santai. Namun, lagi-lagi kaos yang
dikenakan ayah untuk hari Rabu ini sama dengan yang digunakan kemarin. Kaos
yang sudah pucat warnanya, dari abu-abu yang sudah hampir menjadi putih, dengan
gambar yang tak berbentuk lagi apa bentuknya.
“Ayah, ayah kok nggak ganti kaos sih?
Dari kemarin Dhia liatnya itu saja, bosen yah”, protesku. Ayah dengan wajah
lembutnya hanya tersenyum. “Ayah sedang irit Dhia, kan ini musim hujan, nanti
kalau ganti baju terus, kalau cucian nggak kering ayah nggak pakai baju dong”,
sahut ibu. Aku tertawa. Celana yang dipakai ayah juga itu-itu saja, mungkin dua
hari dipakai, dicuci, kemudian 2 hari lagi digunakan kembali. Aku yang baru
paham akan itu selalu protes kepada ayah. Walaupun aku belum terhitung remaja,
tapi soal baju, tas, peralatan sekolah, apapun yang aku pakai dan aku gunakan
selalu beraneka ragam dan mengikuti jaman. Ayah selalu mendukung setiap hal
yang berhubungan baik dengan pendidikan ataupun dengan kemajuan jaman,
khususnya pada bidang teknologi. Walaupun aku hidup di pedesaan, namun ayah,
ibu, dan juga nenek selalu membimbingku untuk tidak kalah dengan anak-anak
kota, dalam hal ini sebatas kemampuan dan ketrampilan pendidikan, tidak untuk
gengsi. Karena di jaman yang maju, kita selalu bersaing untuk lebih baik,
sesuai dengan kemampuan kita. Salah satu nasihat ayah selagi kita berkumpul
bersama di ruang televisi.
“Nenek, kenapa ayah selalu berpenampilan
seperti itu? Ayah nggak seperti aku, aku selalu dibelikan baju oleh ayah, tapi
kenapa ayah jarang pakai baju baru? Apa ibu nggak pernah beli buat ayah, Nek?,
tanyaku pada nenek heran. “Dhia, selagi masih ada baju yang layak pakai, kenapa
ayah harus beli? Ibu juga ingin membelikan ayah, tapi ayah yang sering menolak,
lebih baik untuk Dhia, katanya”. “Tapi Dhia nggak enak kalau temen-temen Dhia
main kesini terus liat ayah pakai bajunya itu terus”, “Dhia malu sama teman-teman
soal ayah?”, jawab nenek heran. “Nggak malu sih nek, cuma Dhia nggak enak, Dhia
punya apa-apa, nggak kalah sama teman-teman, tapi ayah Dhia serba kekurangan,
nanti Dhia jadi anak durhaka dong”, jawab aku sedih. “Subhanallah, cucu nenek
memang sholekhah. Kelak kamu akan tau nak, kenapa ayahmu sesederhana itu”,
nenek menjawab dengan senyum yang lebar. Aku terheran-heran.
Sabtu tiba, hari yang menyenangkan akan
aku sambut dengan penuh keceriaan. Biasanya di hari Ahad, aku, ayah, dan ibu
selalu meluangkan waktu untuk keluar bersama, walau hanya sekedar makan. Kata
ayah, refreshing itu juga perlu, biar otak nggak penuh. Tiba di Sabtu malam,
aku dipanggil ayah untuk ke ruang tamu, di situ telah ada ibu yang duduk di
sebelah ayah. “Dhia duduk depan ayah, nak”, “Iya ayah, ada apa?”, jawab aku.
“Dhia, ayah hanya ingin menyampaikan sesuatu. Ayah dengar cerita dari nenek
tentang Dhia yang malu terhadap ayah ya? Karena ayah nggak pernah ganti baju
ya?”, tanya ayah sambil tersenyum. “I..iya yah. Tapi Dhia nggak malu kok yah
punya ayah kaya ayah”, jawabku kaget. “Dhia, anak ayah yang sholekhah, ayah
tidak ingin salah paham sama Dhia, ayah tidak pernah beli baju, celana, sepatu,
dll bukan karena ibu yang tidak mau membelikan, tapi terlebih karena ayah
merasa cukup dengan apa yang ayah miliki. Jika memang ada rejeki lebih, ayah
hanya ingin untuk kamu. Ayah sudah tidak perlu lagi baju baru, sepatu baru,
celana baru, dan barang lainnya yang baru, harapan ayah hanya kamu, anakku.
Ayah lebih bangga lebih senang kalau anaknya berkecukupan. Jika ayah menuruti
keinginan ayah, bisa saja ayah beli apapun untuk kebutuhan ayah, tapi ayah
lebih memprioritaskan kamu sebagai anak yang kelak akan mengharumkan nama ayah,
ibu, nenek, dan keluarga. Kamu tahu nak, kehidupan kita sederhana, dan ayah
memang lebih suka kehidupan yang seperti ini, dengan ini ayah harus bisa
mengelola rejeki yang ada agar semua bisa berjalan dengan wajar, tanpa ada yang
merasa sangat kekurangan. Ayah sangat berkeinginan jika kamu tidak boleh kalah
dengan yang lain, kita boleh kalah dalam hal materi, tapi untuk ilmu ayah tidak
ingin kamu kalah. Di jaman sekarang, teknologi sangat mempengaruhi perkembangan
ilmu, jika ayah tidak melatihmu untuk mengikuti perkembangan jaman, dan ayah
tidak memfasilitasimu dengan baik ayah merasa sangat bersalah. Jadi, kamu
jangan berpikir yang tidak seharusnya, tetaplah menjadi anak ayah yang periang,
cerdas, sholekhah, dan cantik. Ayah memberimu pengertian di usiamu yang masih
sangat muda karena ayah berharap, perkataan ayah ini bisa menjadi pondasi untuk
kehidupanmu kelak, Nak. Semoga bermanfaat”. Aku lantas memeluk ayah, yang
kemudian disusul pelukan ibu kepada aku dan ayah. Ayah memang selalu bijak.
Ayah adalah sosok sederhana yang pantas menjadi salah satu idolaku setelah nabi
Muhammad SAW. Aku semakin percaya diri dan mantap untuk menatap masa depan, aku
tidak akan menyia-nyiakan waktu.
“Kirani Dhia Syafarana, itu nama yang
ayah berikan saat kamu terlahirkan di dunia sebagai khalifah di bumi ini,
sayang. Nama itu menggambarkan harapan ayah dan ibu juga nenek kakek serta
keluarga yang lain. Kirani berarti sinar, Dhia Syafarana berarti mulia, indah, ramah.
Jadi harapan kami, kamu menjadi anak yang mampu menjadi sinar dalam keluarga
ini, mengangkat nama baik keluarga, agama, dan bangsa. Sepertinya kamu
seharusnya sudah mengerti apa makna nama kamu nak. Karena nama tidak hanya
gabungan kata namun juga menyimpan banyak makna.”, setelah melepas pelukan
kami, aku kemudian dipindahkan ke pangkuan ibu dan saat itu juga ibu
mengeluarkan nasihatnya kepadaku. Sabtu malam itu terasa sangat hangat.
Comments
Post a Comment